|
Tipuan Langsung ala GrafisTV |
|
Written by Gunawan Syarifuddin
|
|
Friday, 11 December 2009 |
Virtual Set sebenarnya bukanlah teknologi baru. Bahkan beberapa TV kelas dunia mulai meninggalkan (baca: mengurangi) peranan virtual set. Sebelum punya grand studio, selama 4 tahun pertama, stasiun Metro TV bahkan hanya mengandalkan satu ruang kecil 4m x 6m berwarna biru untuk menayangkan sebagian besar siarannya. Dari ruangan kecil tersebut hadir ke pemirsa puluhan set dengan berbagai ukuran dan bentuk. Mulai dari lapangan basket, ruang perpustakaan, landscape gedung bertingkat, hingga newsroom. Bagaimana ruang ajaib tersebut bekerja?
Virtual set adalah satu bentuk teknologi pengembangan dari "Chroma key"
set. Pengambilan gambar dilakukan di sebuah ruangan dengan latar
belakang warna flat biru, atau hijau, atau merah. Chroma key set
bekerja dengan cara menghilangkan warna (biru, hijau, atau merah)
tersebut, untuk diisi dengan gambar background yang statis. Sehingga
yang tampak di layar adalah gambar talent, atau narasumber dengan
latarbelakang gambar grafis, bisa still atau video yang bergerak.
Perbedaan mendasar dari Virtual Set dan Chroma Key adalah pada tracking
systemnya. Jika background dari chroma key adalah gambar statis, di
virtual set gambar background akan menyesuaikan dengan pergerakan
kamera. Pergerakan kamera tersebut dikenali berkat adanya alat yang
dipasang di kamera studio bernama "tracker box". Sinyal dari tracker
box mengirimkan data-data posisi, zoom, dan pan dari kamera ke
komputer, lalu komputer akan mensinkronisasi gambar background dengan
posisi kamera studio. Gambar dari komputer dan gambar dari kamera
digabung menjadi satu kesatuan (di-compose) sehingga terlihat
seolah-olah talent berada dalam sebuah studio yang utuh.Semua proses
tersebut bisa dilakukan secara live atau langsung.
Kehadiran virtual set menjadikan ajang kreativitas tanpa batas, dimana
rancangan set tidak dibatasi oleh kendala ukuran, bahan, dan lokasi.
Background virtual set berbentuk ruang trimatra (3D), sehingga
eksplorasi ruangan bisa disimulasikan dengan realistis*). Penerapan
virtual set pun menjadi berkembang dan diberdayagunakan lebih dari sisi
fungsi dan kodratnya sebagai mesin virtual set. Misalnya menampilkan
data-data grafis, atau yang sekarang sedang dikembangkan para awak
grafis Metro TV, yaitu teknologi hologram.
*) Beberapa virtual set tidak menggunakan 3D, tetapi 2.5D, dimana
tracking system tetap dipakai, tetapi background adalah papan datar
seperti backdrop.
|